Entri Populer

Kodifikasi AI-Quran: Sesudah Rasulullah wafat



A.    Masa Khalifah Abu Bakar As-Shiddiq.
Sesudah Rasulullah wafat, Ali - yang oleh Nabi dikukuhkan sebagai orang yang paling tahu tentang Al-Quran - diam di rumah­nya untuk menghimpun Al-Quran dalam satu mushaf menurut urutan turunnya. Dan belum enam bulan sejak wafatnya Rasulullah, dia telah merampungkan penghimpunan itu dan mengusungnya ke atas punggung unta.
Satu tahun sesudah Rasulullah wafat, pecah perang Ya­mamah pada 12 H yang merenggut korban tujuh puluh orang qurra’. Pada waktu itu khalifah Abu bakar atas usulan Umar bin Khattab menghimpun surat-surat dan ayat-ayat Al-Quran dalam satu mushaf, karena khawatir akan ter­jadi perang lagi serta khawatir akan punahnya para qurra’ dan hilangnya Al-Quran karena kematian mereka. Khalifah memerin­tahkan kepada sekelompok qurra` sahabat di bawah pimpinan Zaid bin Tsabit untuk menghimpun Al-Quran. Mereka menghimpun dari papan-papan, pelepah-pelepah kurma, dan kulit-kulit domba yang terdapat di rumah Nabi yang ditulis oleh para penulis wahyu, dan tulisan-tulisan yang ada pada sahabat-sahabat yang lain hingga menjadi satu naskah. Kemudian setelah selesai Al-Quran dihimpun menjadi satu, lalu diserahkan kepada Abu Bakar sampai ia wafat.

Kemudian wafatnya khalifah pertama, Al-Quran itu berpindah tangan kepada Khalifah kedua Umah bin Khattab, dan sepeninggal beliau ini, lalu disimpan oleh salah seorang putrinya, yaitu Hafsah binti Umar bin Al-Kattab istri Nabi S.A.W.

B.     Masa Khalifah Utsman bin Affan.
Ketika terjadi perang Armenia dan Azarbaijan dengan penduduk irak, Abu Hudzaifah  melihat banyak perbedaan dalam caara-cara mambaca Al Qur'an. Sebagian bacaan bercampur dengan kesalahan. Tapi masing-masing mempertahankan dan memegangi bacaannya, hingga mereka saling mengkafirkan. Melihat kejadian ini ia menghadap khalifah Usman dan melaporkan apa  yang dilihatnya.
Maka Khalifah Utsman bin Affan mengetahui bahwa Al-Quran terancam perubahan dan penggantian akibat sikap mempermudah dalam menyalin dan memeliharanya, dia memerintahkan untuk meng­ambil mus-haf yang disimpan oleh Hafsah, yakni naskah pertama di antara naskah-naskah khalifah pertama, dan memerintahkan kepada lima orang sahabat, yang di antaranya Zaid bin Tsabit, untuk menyalin mus-haf tersebut. Khalifah ketiga juga memerintahkan agar semua naskah yang terdapat di negeri-negeri Islam dikumpulkan dan dikirimkan ke Madinah, kemudian dibakar.
Mereka menulis lima naskah Al-Quran. Satu naskah ditinggal di Madinah dan empat yang lainnya dibagi-bagikan ke Makkah, Suriah, Kufah dan Basrah. Masing-masing satu buah. Ada yang mengatakan bahwa selain lima naskah ini, ada satu naskah yang dikirimkan ke Yaman, dan satu lagi ke Bahrain. Naskah inilah yang dikenal dengan scbutan Mus-haf Imam dan semua naskah Al­Quran ditulis menurut salah satu dari kelima naskah ini. Semua naskah ini dan mus-haf yang ditulis melalui perintah khalifah pertama tidak berbeda, kecuali dalam satu hal, yaitu bahwa surat al-Bara'ah dalam mus-haf khalifah pertama diletakkan di antara surat-surat mi'un,[1] dan surat al-Anfal diletakkan di antara surat­surat matsani.[2] Sedangkan dalam Mus-haf Imam, surat al-Anfal dan al-Bara'ah diletakkan di antara surat al-A'raf dan Yunus.

C. Perbedaan antara penyusunan Abu bakar dan Utsman bin Affan.
Pengumpulan yang dilakukan Abu Bakar bermotif kehawatiran beliau akan hilangnya Al Qur'an karena banyaknya hufadz yang gugur dalam peperangan. Sedangkan pada priode Utsman bermotif karena banyaknya perbedaan bacaan Al Qur'an yang disaksikannya sendiri di daerah yang saling menyalahkan satu sama lain.
semua tulisan atau catatan aslinya kemudian di kumpulkan dalam satu mushaf, dengan surah-surah dan ayatnya yang  tersusun serta terbatas pada bacaan-bacaan  yang tidak mansukh dan masih mencakup ketujuh huruf sebagaimana ketika Al Qur'an diturunkan. Sedangkan pada masa Utsman menyalinya dari tujuh huruf menjadi satu mushaf dan satu huruf diantara tujuh huruf itu, untuk mempersatukan kaum muslimin dalam satu mushaf dan satu huruf yang mereka baca tanpa keenam yang lainnya.        
Perbedaan pendapat tentang pengertian tujuh huruf Para ulama berbada pendapat dalam menafsirkan tujuh huruf ini dengan perbedaan bermacam-macam:
1)      Sebagian besar ulama berpendapat bahwa yang ia adalah tujuh macam  bahasa dari bahasa-bahasa arab mengenai satu makna.
Dikatakan bahwa tujuh bahasa tersebut adalah Quraisy, Huzail, saqif, Hawazin, Kinanah dan Yaman. Namun dalam riwayat lain yang menyebutkan
berbeda.
2)      Suatu kaum berpendapat bahwa bahwa yang dimaksud dengan tujuh huruf adalah tujuh macam bahasa dari bahasa-bahasa arab dengan nama Al Qur'an,diturunkan. Maksudnya adalah bahwa tujuh huruf yang betebaaran di berbagai macam surat Al Qur'an, bukan tujuh bahasa yang berbeda dalam kata tetapi sama dalam makna.
3)      Sebagian ulama menyebutkan bahwa yang dimaksud tujuh huruf     yaitu: Amr(perintah), Nahyu(larangan), Wa’ad(janji), Wa'id(ancaman), jadal(perdebatan), Qashas(cerita) dan Masal(perumpamaan) Atau Amr, nahyu, halal, haram, muhkam, mutsyabih.
4)      Segolongan ulama berpendapat bahwa yang dimaksud tujuh huruf   yaitu:
a.Ikhtilaful
Asma(perbedaan,kata,benda)
b.Perbedaan
dalam tashrif.
c.Perbedaan
taqdim dan ta'hir.
d.Perbedaan
dalam segi ibdal(pengantian).
e.Perbedaan
karena penambahan dan pengurangan.
f.Perbedaan lajah seperti idzhar dan idham, fathah dan imalah dll.
5)      Menurut sebagian ulam yaitu tujuh itu tidak diartikan harfiyah (bukan bilangan enam sampai delapan) tetapi bilangan tersebut hanya lambang kesempurnaan menurut kebiasaan orang arab.
6)      Segolongan ulama berpendat bahwa yang dimaksud tujuh huruf   adalah tujuh qiraah. Pendapat terkuat dari semua pendapat tersebut adalah pendapat pertama.

Hikmah yang dapat diambil dengan kejadian turunnya Al-Qur'an dengan tujuh huruf.
1)      Untuk memudahkan  bacaan dan hafalan bagi bangsa yang ummi, tidak bisa baca tulis, setiap kabilah yang mempunyai dialek masing-masing, namun tidak biasa menghafal sya’ir, apalagi mentradisikannya.
2)      Bukti kemukjizatan Al Qur'an  terhadap fitroh kebahasaan orang arab.
3)      Kemukjizatan Al Qur'an dalam aspek makna dan hukum-hukumnya.

Seorang ahli tahqiq Ibnu Jazry berkata "Adapun sebabnya Al-Qur'an didatangkan dengan tujuh huruf, tujuannya adalah untuk memberikan keringanan kepada ummat, serta memberikan kemudahan sebagai bukti kemuliaan, keluasan, rahmat dan spesialisasi yang diberikan kepada ummat utama disamping untuk memenuhi tujuan Nabinya sebagai makhluk yang paling,utama,dan,kekasih,Allah". Dimana Jibril datang kepadanya sambil berkata "Bahwa Allah Swt telah memerintahkan kamu untuk membacakan Al-Qur'an kepada ummatmu dengan satu huruf". Kemudian Nabi menjawab "Saya akan minta 'afiyah (kesehatan) dan pertolongan dulu kepada Allah karena ummatku tidak mampu". Beliau terus mengulang-ulang pertanyaan sampai dengan tujuh huruf.
Menyatukan ummat Islam dalam satu bahasa yang disatukan dengan bahasa Quraisy yang tersusun dari berbagai bahasa pilihan dikalangan suku-suku bangsa Arab yang berkunjung ke Makkah pada musim haji dan lainnya.

Daftar Bacaan:
Al-Quran Al-Karim, dan Terjemahannya. 
Thabathaba’i. Allamah M.H. Mengungkap Rahasia Al-Quran. Bandung: Penerbit Mizan, 1992.
Kholil. Moenawar. Al Qur’an dari masa ke masa. Solo: Ramadhani, 1994.

Sebelumnya: Kodifikasi AI-Quran: Sebelum wafat Rasulullah

[1] Yaitu surat-surat yang berisi kira-kira seratus ayat lebih, seperti: Hud, Yusuf, Mukmin, dan sebagainya. 
[2] Yaitu surat-surat yang berisi kurang sedikit dari seratus ayat, seperti: al-Anfal, al­Hijr, dan sebagainya. Pada masa Abu Bakar pengumpulan  dalam,bentuk,memindahkan.

0 comments: